PELAJAR BERKARYA

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

About Me

Foto Saya
Tulisan-tulisanku
Lihat profil lengkapku

Labels

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

List Widget

Tag Cloud

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Cari Blog Ini

" "

Dalam diam ada kerenungan, dalam kasih ada cinta.
Dalam hidup ada keluh, dalam duka ada kesah.
Dalam hati ada rasa.
Dan dalam pikiran ada kejernihan.

Terima Kasih

Terima Kasih
Powered By Blogger

Entri Populer

  • (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya
    (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya Oleh Anggun Zarela Titik-titik embun pagi masih bertebaran diangkasa. Rasa dingin suhu pagi itupu...

Followers

Jika kamu terus memfokuskan dirimu pada apa yang tertinggal di masa lalu, kamu tak akan pernah bisa apa yang ada di depanmu...

Rabu, 24 Agustus 2011

Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut


                Dua minggu yang lalu, masih sempat ia bercanda dan bermain  dengan teman akrabnya sejak TK. Kini mereka berdua telah berusia 16 tahun, cukup lama menjalin hubungan pertemanan satu sama lain. Anggapan bahwa mereka telah menjadi saudara telah ada, ketika mereka duduk di bangku SD.
                Mereka berdua selalu bersama, duduk sebangku ketika SD. Selalu bermain, bercanda, tertawa, cerita, dan semuanya biasa dilakukan bersama. Kalaupun mereka lagi bertengkar, paling sebentar satu menit.
                Enjela adalah salah satu dari mereka, ia cantik berbakat dan pintar. Hobinya membuat orang tertawa, kesal, cenderung cerewet, dan suka minta maaf. Sedangkan yang satunya bernama Melindah, ia juga cantik, punya bakat, tak kalah dengan Enjela, ia juga orang yang pemaaf.
                Mereka mempunyai bakat di bidang yang sama, yaitu menari. Bakat ini telah ada ketika mereka masih TK hingga kini. Dua minggu lalu, Enjela masih sempat bercanda dengan Melindah. Tak khayal itu yang membuat mereka tertawa, di samping permasalahan hidup yang mereka hadapi. Enjela yang memang mudah dekat dengan siapa saja, ia juga mudah mendapatkan pemilik hati. Lain halnya dengan Melindah yang setia dengan pacarnya, tetapi ia masih bersikap kekanak-kanakan.
                Masalahnya bermula dari Vero yang merupakan pacar dari Melindah. Mereka telah menjalin hubungan selama satu tahun lebih, maka dari itu mereka telah mengerti satu sama lain. Melindah dan Enjela berbeda sekolah, begitu juga dengan Vero. Tetapi dengan kemajuan zaman, di era globalisasi seperti ini, lewat handphone saja orang sudah bisa berinteraksi satu sama lain.
                Vero yang diam-diam sering memperhatikan Enjela, saat menjemput Melindah setelah pulang latihan. Enjela tidak mempermasalahkan hal itu, karena dia menganggap semuanya teman.
                “Njel, lihat Melin ga? Kok dia ga ada ya? Apa sudah pulang duluan?,” tanya Vero saat menjemput Melindah yang sudah pulang duluan.
                “Ga tau tuh,” cetus Enjela karena pusing dengan banyak pertanyaan.
                Tiba-tiba Vero meminta Enjela agar ikut dia pulang. Tetapi, Enjela menolak karena dia merasa tidak enak dengan Melindah. Vero tetap memaksa dan akhirnya Enjela ikut pulang dengan Vero.
                Rupanya, Melindah ada dibelakang motor yang dikendarai oleh Vero. Enjela memandang wajah Melindah. Raut mukanya berubah marah, sinis dari sorotan matanya tak dapat dipungkiri. Tetap saja, Vero melanjutkan laju motornya di alur jalan raya.
                Beberapa hari kemudian, Enjela kembali bertemu dengan Melinda. Kembali ia terima senyum kebencian dari Melindah, ia terima lagi tatapan sinis dari Melindah. Usaha Enjela meminta maaf atas kesalahannya kemarin, tidak di gubris oleh Melindah. Seakan tetap optimis, ia tetap berusaha meminta maaf atas kelancangannya menuruti ajakan Vero kemarin. Akhirnya Melindah luluh dengan permintaan maaf  Enjela. Persahabatan mereka kembali seperti sedia kala.
                Semakin lama persahabatan yang sempat di terpa oleh badai angin itu telah kembali seperti semula. Enjela merasa senang dengan keadaan saat itu, mereka telah kembali lagi. Persahabatan yang telah dibina selama beberapa tahun itu kembali bersatu.
                Masalah kedua kembali datang menerpa persahabatan mereka. Vero kembali mendekati Enjela. Alasannya simple karena ingin curhat (curahan hati) tentang masalah hubungannya dengan Melindah. Banyak SMS dan telepon dari Vero untuk Enjela selalu diabaikannya.  Karena ia rasa, ia tidak mempunyai hak untuk membalas sms dari Vero.
                Rasa tidak enak mulai muncul di benak Enjela, dia merasa tidak enak karena tidak mendengarkan cerita curahan hati dari Vero tentang masalahnya dengan Melindah. Maka dari itu, saat Vero menghubunginya, Enjela mendengarkan dengan teliti setiap kalimat yang keluar dari mulut Vero. Entah apa yang dipikirkan Enjela, tanpa sadar ia dengan cemat peduli terhadap keadaaan yang terjadi pada hubungan Vero dan Melindah.
                Sekian lama, ia mendengarkan curahan hati seorang pacar temannya, ia juga merasa iba dengan keadaan yang kini di hadapi oleh hubungan Vero dan Melindah. Selama satu minggu lebih  ia dekat dengan Vero karena alasan yang yang memang menurutnya perlu.
                Masalah baru datang lagi, Vero dan Melindah telah berbaikan, Vero tak bercerita soal baiknya hubungan mereka dengan Enjela. Malam itu, Handphone Enjela kembali berdering, rupanya ia kembali menerima SMS dari Vero. Sempat ia mengira tak ingin membalas SMS tersebut, tiba-tiba saat ia membaca isinya.
                “Astaghfirullahaladzim,” ucap Enjela sambil mengelus dada.
                Ia sontak terkejut membaca SMS yang isinya adalah menghina dan mencaci maki Enjela. Ia tak percaya aka nisi sms yang benar-benar membuatnya sakit hati itu. Tapi ia mencoba untuk tetap tegar dan sabar menghadapi semua yang terjadi pada dirinya. SMS yang ia terima berupa kalimat-kalimat marah dan benci dari Vero. Katanya ia tak mau lagi mengganggu Enjela, dan begitupun Enjela diminta untuk jangan mengganggu mereka. Padahal sudah jelas-jelas ia tidak mengganggu hubungan Vero dan Melindah, ia hanya ingin membantu mendengarkan dan member solusi dari curahan hati seorang Vero.
                “Shit, semua serba salah! Padahal Enjel punya niat baik dengerin ceritanya dia. Kok malah Enjela yang disalahin atas semua ini. Enjel janji ga mau kenal lagi dengan mereka!,” cetusnya marah karena kesal dengan sms yang isinya mencaci maki dirinya itu.
                Hari berlalu dengan begitu saja. Sedikit demi sedikit Enjela mulai dapat melupakan hal yang telah membuat ia malu dan sedih. Hari rabu, saat Enjela kembali latihan di sanggar tari bersama teman-temannya yang lain termasuk Melindah.
                Ia berusaha untuk meminta maaf dengan Melindah atas kejadian yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu. Tapi usaha itu gagal begitu saja. Ia tak mendapatkan respon dari Melindah. Setiap pertemuan dengan Melindah, ia selalu berusaha meminta maaf, tapi apa yang di dapat, ia sama sekali tak di gubris oleh Melindah. Tetap ia tak berputus asa, di tiap kesempatan kata minta maaf selalu datang dari mulutnya. Kembali ia terima perlakuan yang sama dari Melindah.
                Di lain waktu, saat Enjela belajar mengerjakan PR dari sekolahnya. Hp nya kembali bergetar, ia tak mengenal nomor yang masuk menghubunginya.
                “Halo, ini siapa ya?,” tanya Enjela dengan nada bingung.
                “Masa ga kenal? Ini Vero, Vero, Njel,” jawabnya dengan nada serius.
                “Oh, kamu? Ngapain nelpon? Ada perlu? Ada yang bisa gua rusak lagi hubungannya?,” tanya Enjela sedikit menyinggung. Sejenak Vero terdiam dan membisu dengan telepon yang masih tersambung.
                “Mmm, maaf Njel soal yang itu. Gua ga tahu. Gua minta maaf ya, jangan salah paham dulu ya! Biar gua jelasin!,” jawab Vero gugup.
                “Stop! Stop! Ga usah jelas-jelasin yang ga penting bagi gua! Apa yang mau Lu jelasin lagi ke gua? Not Important, you know! Ga usah ganggu gua lagi! Gua ga mau punya masalah yang ribet kayak gini, hanya karena Lu,” ujar Enjela dengan nada marah.
                “Jangan gitu lah, please jangan marah ya? Gua emang salah,” lirih Vero.
                “Ya, ya, ya terserah Lu aja lah. Gua ga mau punya masalah sama sahabat gua sendiri, gua ga mau bertengkar sama sahabat yang udah lama kenal, hanya karena Lu! Hanya karena cowok tengil kayak Lu,” jawab Enjela sambil marah-marah. “Udah ya gua matiin aja telepon yang ga penting ini, Bye,” sambung Enjela lalu mematikan telepon itu.
                Hari berlalu begitu saja, Vero masih berusaha menghubungi Enjela yang sudah jelas-jelas tidak mau berhubungan baik dengannya. Tetapi usaha Vero tidak sia-sia, Enjela akhirnya memaafkan kesalahan Vero, tetapi itu tidak sepenuhnya. Karena ia yakin, Melindah masih salah paham dengan apa yang terjadi saat itu.
                Mencoba menghadapi hari dengan senyuman. Enjela  memulai hubungan yanga baik dengan Vero. Tak khayal, ini kesempatan yang baik bagi Vero untuk mendekati Enjela dengan alasannya yang beragam.
                Suatu ketika, saat Enjela dan Melindah mengikuti sebuah acara pemilihan putera dan puteri terbaik di daerahnya, mereka berdua satu tim dalam mengisi tarian. Sukses besar, dengan apa yang mereka lakukan.
                Masalah yang sama kini mulai datang. Enjela sering mengirim SMS yang dikirimnya ke semua kontak telepon di handphonenya. Tak sadar, ia juga mengirimkan SMS itu ke Vero. Enjela tak tahu, bahwa HP Vero di pegang oleh Melindah. Esoknya, ia menerima SMS dari Melindah yang menggunakan nomor HP Vero. Rasa sakit yang ia rasakan saat membaca SMS singkat yang kata per kata yang sungguh menyakitkan. Ia berusaha meminta maaf kembali atas kesalahan yang ia telah perbuat. Enjela juga menjelaskan semua yang terjadi antara ia dan Vero, meminta Melindah agar tidak salah paham atas kejadian yang terjadi antara mereka bertiga, tetapi tetap saja semua sia-sia.
                Tegar, satu kata yang ia lakukan saat itu. Enjela sadar, mungkin kini saatnya ia melepaskan seorang sahabat yang telah ia kenal bertahun-tahun. Seorang sahabat, seharusnya memaafkan kesalahan satu sama lain. Bukan menjadi musuh dalam selimut, apalagi permasalahan itu bermula dari kekasih hati yang baru menemani dirinya. Salah besar percaya terhadap sahabat, dan Enjela yakin suatu saat ketika semua hilang, rasa sahabat, rasa persatuan satu sama lain kembali.  Hanya keyakinan yang ia pegang, berharap semuanya akan kemabali seperti sedia kala.

Anggun Zarela, 3 May 2011.

Diposting oleh Tulisan-tulisanku di 15.59
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
@ 2011 PELAJAR BERKARYA; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog