Rabu, 24 Agustus 2011
In:
CERPENKU
Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)
Panas terik matahari dari ufuk timur telah hadir pagi ini, pegal-pegal di badan masih terasa. Kulihat jam di dinding telah menunjukan pukul tujuh kurang lima belas menit.
“Ya tuhan, aku kesiangan lagi,” jeritku dari atas kasur.
Mulai aku berlari menuju kamar mandi yang jaraknya tak jauh dari kamarku. Mandi ala bebek telah biasa aku lakukan jika kesiangan seperti ini. Kembali kulihat jam telah menunjukan pukul tujuh tepatnya, dengan cepatnya aku mengambil motor di garasi mobil. Ssstttt.. sampailah aku disekolah dengan kecepatan 70 km/jam, dengan pandangan yang masih buram kulihat gerbang sekolah belum tertutup rapat, secepat kilat aku berlari menuju ruang kelas tempatku belajar.
“Huppt.. untung aja nggak kesiangan beneran,” lirihku dalam hati.
Kembali ke suasana di rumah yang tak menguntungkan bagiku. Orangtuaku yang sibuk dengan bisnisnya membuatku benar-benar merasakan kurang merasakan kasih sayang. Apalagi semenjak Papa dan Mama bercerai, semuanya hancur berantakan. Aku yang mempunyai adik perempuan juga terpisahkan.
Sedih memang, dan benar-benar kurang beruntung masalah yang ku hadapi. Tetap tegar dengan semua ini, dan percaya ada satu keajaiban dalam masalah ini. Hanya ada pembantuku di rumah, tetapi aku masih saja merasakan kesepian dan aku cenderung berdiam diri di dalam kamar.
Brmmm.. brmmmm.. suara mobil Papa sudah pulang. Tak ada senyum dari wajahnya, tak ada pertanyaan yang keluar dari bibirnya untukku. Ya, aku memang seorang anak laki-laki yang harusnya tak bersikap cengeng dengan semua ini. Hari-hariku memang seperti ini, paling hanya Asih pembantuku yang selalu membangunkan aku dari tidur pagiku.
Sepertinya malam ini, Papa tak akan keluar dari kamarnya, biasanya ia lelah dengan pekerjaannya. Ku coba untuk mengerti dengan semua yang di rasakan oleh Papa, apalagi ia kini menjadi single parent, setelah di tinggal oleh Mama. Rasa rindu pada Mama dan adikku memang tengah ku rasakan. Tak ada yang menghiburku dengan canda, tawa, dan perhatian pun kurang untukku.
Setiap malam aku berdoa pada tuhan, agar semuanya berubah seperti dulu, serta berharap tuhan akan mengabulkannya. Terlihat jelas di atas balkon rumahku seorang gadis cantik memakai baju merah terang, dengan balutan jilbab yang rapi. Aku tersenyum melihat gadis itu, diam-diam ia kuperhatikan sedang membagikan souvenir bagi pengguna kendaraan roda dua.
“Cantik,” satu kata yang keluar dari bibirku.
Ia benar-benar cantik dari pada gadis-gadis lain yang ada di sekitar itu. Aku beranjak turun dari balkon, menuju teras bawah untuk melihat jelas gadis berbusana serba merah itu. Ketika aku sampai di teras, tak ada lagi gadis itu, rasa kecewa muncul karena aku tak berhasil memandang dari dekat wajah gadis itu.
Masih terbayang wajah samar-samar gadis berbaju serba merah itu. Banyak pertanyaan yang keluar dari bibirku tentang gadis itu, aku benar-benar penasaran dengan gadis yang membuatku jadi aneh seperti ini. Hari berlalu begitu saja, aku masih tetap saja bangun kesiangan setiap paginya. Entah sudah kebiasaan atau bagaimana, aku tetap saja bangun tak pernah pagi.
Ketika sosok gadis berbaju merah yang pernah terlihat dari atas balkon itu masuk ke dalam kelas ku, aku benar-benar terkejut, karena ia telah menjadi siswa baru di dalam kelasku. Aku terus saja memandanginya, senyumnya manis, dan balutan jilbabnya yang cantik dengan nama Nessiza Syandara. Nama yang benar-benar sesuai dengan gadis cantik itu.
Entah ada angin apa yang membuat aku menjadi sosok yang semangat menjalani hidup, seperti pada masa kebersamaan keluargaku dulu. Aku selalu bangun pagi, mengerjakan tugas sekolah dengan baik, dan kini aku tak terlalu perduli dengan sikap Papa yang tetap seperti itu padaku.
“kok, kamu berubah ya? Nggak kayak Weeldan yang gua kenal,” bisik temanku karena melihat perubahanku.
“Ya, Weeldan Wintara Wesa kembali bersemangat hidup!” jawabku dengan lepas.
Ia hanya tersenyum melihat tingkahku yang aneh, tak seperti aku yang dulu. Kini hidupku benar-benar bersemangat, walau aku terlahir dengan keluarga yang tak harmonis, ya Broken Home. Semuanya berlalu begitu saja, ketika Nessiza Syandara hadir di hidupku. Ia membuatku berubah menjadi manusia yang lebih menghargai hidup, bersemangat menjalani hidupku yang penuh dengan penderitaan dan kurang kasih sayang dari orang tua.
Ingin rasanya aku mengungkapkan rasa sayang terhadap gadis berjilbab merah yang pernah ku temui. Selama dua tahun lebih aku satu kelas dengan Nessiza, setiap hari aku dapatkan senyumnya yang manis dengan cara bicaranya yang sangat santun. Namun, tetap saja aku tak dapat mengungapkan rasa yang menggebu-gebu dalam hati. Aku harus bilang apa terhadapnya? Aku sendiri bingung dengan keadaan yang kini ada di jalan hidupku.
Papa juga tetap pada sikapnya yang acuh tak acuh padaku, tanpa senyum dan bicara padaku. Tanpa sadar kini aku duduk di kelas Dua Belas. Selama 730 hari lebih aku mengenal Nessiza. Masa menjadi anak sekolah pun berakhir sudah, ini artinya aku juga akan berpisah dengan Nessiza dengan rasa yang masih belum terungkap.
Sudah dua bulan aku tak pernah lagi melihat senyum dari wajah kemayu Nessiza. Biasanya, setiap hari aku selalu melihat wajahnya dengan penuh ceria. Masih teringat di benakku, karena aku tak pernah berbicara dengannya.
Aku kembali jenuh dengan hidupku sekarang, tak ada yang membuatku bersemangat dalam hidup. Walaupun, aku akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Aku meneruskan pendidikan di Universitas Negeri di tempat tinggalku. Harapanku untuk berjumpa lagi dengan Nessiza sangatlah besar, tapi aku kurang yakin dengan harapanku yang akan jadi sia-sia saja.
Aku kembali jenuh dengan hidupku sekarang, tak ada yang membuatku bersemangat dalam hidup. Walaupun, aku akan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu perguruan tinggi. Aku meneruskan pendidikan di Universitas Negeri di tempat tinggalku. Harapanku untuk berjumpa lagi dengan Nessiza sangatlah besar, tapi aku kurang yakin dengan harapanku yang akan jadi sia-sia saja.
“Ya tuhan, pertemukanlah aku dengan gadis cantik berbaju merah saat itu,” pintaku sambil membayangkan wajah Nessiza.
Selama bertahun-tahun penantianku akan kehadiran Nessiza di hidupku sangatlah besar. Sampai aku telah mendapatkan gelar S1 dan bekerja di sebuah perusahaan asing. Hidupku tetaplah hidupku, tetap menanti gadis baju merah bernama Nessiza Syandara.
Tiba-tiba aku melihat seseorang yang benar-benar ku kenal, kembali ia memakai busana serba merah. Ketika ia berbalik badan di café itu, ia tersenyum memandangku.
“Nessiza,” lirihku sambil mengelus dada.
“Weeldan, apa kabar?” sapanya lembut untukku.
“Baik, dan benar-benar baik. Nessiza sendiri bagaimana?”
“Baik, dan benar-benar baik. Nessiza sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, baik-baik saja,” jawabnya sambil menggendong seorang anak kecil.
Rasa penasaran dengan anak yang di gendongnya tadi masih menjadi tanda tanya besar dalam batinku. Usiaku kini 30 tahun, aku masih saja melajang sebagai Perjaka Tua. Setelah aku mencari tahu tentang anak yang di gendong Nessiza saat itu adalah anaknya, rupanya Nessiza sudah menikah dengan laki-laki lain yang kini dikaruniai seorang anak perempuan.
Kecewa memang, bertahun-tahun aku menanti sosok Nessiza Syandara, dan kini ia telah bersama laki-laki lain sebelum aku mengungkapkan rasa yang sangat besar terhadapnya. Aku menghela nafas panjang sembari duduk diatas sofa lembut yang baru aku beli kemarin. Sedikit demi sedikit perabotan di rumah baru ini sudah terisi, tetap bersyukur atas karunia tuhan, walau sekarang aku belum bisa membuka hatiku untuk wanita lain. Rasa sayangku tetap pada satu wanita yaitu Nessiza Syandara. Seorang wanita yang telah membuatku berubah bersemangat hidup dan bangkit dalam dunia keterpurukan Broken Home.
Sudah hampir 20 tahun aku menempati rumah ini dengan kesendirian, usiaku yang sudah tua telah mencapai 50 tahun, dan tetap saja aku belum mempunyai seorang pendamping hidup yang menemani hari-hari kosongku. Hatiku yang tak akan pernah mati untuk Nessiza Syandara, wanita yang telah ku kenal lebih dari 34 tahun, sejak 16 tahun usiaku saat itu. Senyumnya pun masih terbayang-bayang, manakala rasa sepi menghantuiku, tapi aku yakin kini ia bahagia dengan suami dan keluarganya.
Usiaku sudah tak muda lagi, dan pada akhirnya aku kembali bertemu dengan Nessiza, di tempat pemakaman terakhirnya. Aku meneteskan air mata, dan aku yakin aku akan kembali hidup bersamanya di suatu hari kelak. Cintaku tak akan pernah mati untuk wanita yang membuatku cinta mati, Nessiza Syandara.
Anggun Zarela, May 11, 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.

0 komentar:
Posting Komentar