PELAJAR BERKARYA

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

About Me

Foto Saya
Tulisan-tulisanku
Lihat profil lengkapku

Labels

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

List Widget

Tag Cloud

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Cari Blog Ini

" "

Dalam diam ada kerenungan, dalam kasih ada cinta.
Dalam hidup ada keluh, dalam duka ada kesah.
Dalam hati ada rasa.
Dan dalam pikiran ada kejernihan.

Terima Kasih

Terima Kasih
Powered By Blogger

Entri Populer

  • (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya
    (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya Oleh Anggun Zarela Titik-titik embun pagi masih bertebaran diangkasa. Rasa dingin suhu pagi itupu...

Followers

Jika kamu terus memfokuskan dirimu pada apa yang tertinggal di masa lalu, kamu tak akan pernah bisa apa yang ada di depanmu...

Kamis, 25 Agustus 2011

Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adikku*


Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama
Untukmu Adikku*
                Alunan petikan gitar usang dengan lantunan suara yang sedikit cempreng riuh gemuruh terdengar.  Di atas bus Kopaja yang biasanya ku naiki setiap aku akan berangkat kesekolah. Bus yang biasa ugal-ugalan ini selalu membuatku datang tepat waktu, mungkin itu sedikit alasannya mengapa kendaraan ini selalu berlaku seperti itu. Teringat jelas saat aku masih duduk di SMA. Apalagi ketika pulang sekolah, hal yang sangat menarik untuk tidak dilewatkan.
            Sebenarnya aku tak biasa untuk menaiki kendaraan umum seperti ini, tetapi karena aku tak ingin merepotkan orangtuaku. Aku juga terlahir dari keluarga yang mapan, ayahku mempunyai bisnis yang cukup berkembang, sedangkan ibuku mempunyai bisnis pesan antar makanan. Aku baru lulus dari SMA Negeri Bunga Bangsa, dan kini aku menikmati masa libur panjang.. Dirumahpun, aku mempunyai seorang adik kecil yang lucu bernama Pertiwi.
            “Donita, bantu Ibu sini!” jerit Ibu dari dapur untukku.
            Dengan sigap aku membantu ibu untuk mempersiapkan pesanan makanan orang yang akan mengadakan acara pernikahan. Tak banyak yang dapat ku lakukan, ya tapi hitung-hitung aku telah membantu Ibu.
            Adikku, merupakan orang yang paling ku sayangi dirumah. Biasanya ayah dan Ibu sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tapi itu tak membuat kami kekurangan kasih sayang. Karena kami selalu diberikan perhatian lebih oleh ayah dan ibu.
            Pertiwi sangat gemar bermain di bawah pohon mangga di depan rumah. Dia juga sangat gemar melukis, itu merupakan hal yang sama denganku. Pertiwi masih berusia 6 tahun. Ia selalu membuat aku tertawa, kapanpun bersamanya. Tapi sayangnya, sampai saat ini dia belum bisa berbicara sepatah katapun. Kata dokter ia mengalami kebisuan permanen. Itulah yang membuat aku sedih.
            Tetapi, lewat bahasa isyarat aku banyak mengerti apa yang ia katakan. Ia selalu menggunakan media lukisan untuk menggambarkan isi hatinya. Ayah dan Ibupun mendukung apa yang kami berdua lakukan, semasih itu bersifat positif.
            Minggu pagi yang cerah, Ayah mengajak kami jalan-jalan ke sebuah tempat pemancingan  di kota. Sayangnya, Tiwi menolak ajakan Ayah. Aku juga menolak karena pastinya Tiwi tak ada yang menemani dirumah. Akhirnya hanya Ayah dan Ibu yang berangkat kesana. Aku teringat pengamen kecil di bus Kopaja yang ku temui beberapa hari yang lalu. Ia memberikanku pelajaran tentang makna kehidupan yang abadi.
            Tiwi kembali menarikku ke bawah pohon mangga depan rumah, dengan membawa segala perlengkapan untuk melukis. Aku tak dapat menolak, aku mengikuti kemauan Tiwi. Ia mengajakku untuk melukis harapan kedepan, aku tersenyum simpul. Anak sekecil ini sudah bisa berfikir kearah masa depan. Tiba-tiba yang terlintas dipikiranku adalah bermain bersama Tiwi di sebuah tempat pemakaman. Aku hanya mengikuti naluri hatiku. Ketika selesai, aku terkejut dengan apa yang ku buat. Tiwi menoleh kearahku, sambil menunjuk dan mempertanyakan apa yang ku maksudkan. Aku sendiripun tak tahu apa yang ku lukis, hanya senyum dan memeluknya yang dapat kulakukan. Aku tak ingin kehilangan adikku yang paling kusayang.
            “Ya Allah, lindungilah adikku dimanapun Ia berada, aku sangat menyayanginya, jangan Kau ambil dia dari hidupku!” pintaku pada Allah.
            Selama menikmati masa liburan, aku menghabiskan waktu selalu bersama Tiwi. Aku tak ingin berpisah darinya. Mungkin kedua orangtuaku telah mengetahui kalau aku sangat menyayangi Tiwi lebih dari segenap jiwa.
            Tiba-tiba, hal yang tak kuinginkan hadir. Tiwi mengalami sakit keras, ia masuk rumah sakit dikota. Aku sangat sedih dengan kejadian ini. Panas dibadannya tidak kunjung sembuh. Dokter pun tak bisa mendiagnosis penyakit yang diderita Tiwi. Aku tak ingin kehilangan adik yang kusayangi.
            Aku kembali kerumah dengan raut muka yang kusut. Masih teringat Tiwi terbaring lesu diatas kasur rumah sakit. Aku benar-benar bingung dengan hal yang menimpa Tiwi. Tuhan punya jalannya masing-masing. Mungkin saat ini kami tengah dihadapkan dengan masalah yang sangat pelik. Tapi apa boleh buat, ini semua harus dijalani dengan sabar, dan penuh keikhlasan.
            Terdengar kabar, kalau Tiwi mengidap penyakit kangker otak yang lumayan parah. Aku mencoba untuk tegar mendengar kabar itu. Ibu mengelus rambutku, aku masih saja menangis. Kata dokter pun, Tiwi tak akan bertahan lama hidup di dunia ini. Itulah yang membuatku makin terpuruk dalam kesedihan yang ada.
`           Angin masih berhembus dengan pelan, matahari masih menampakkan cahayanya. Bintang masih setia menemani malamku. Biasanya setiap malam, Tiwi selalu masuk kamarku. Ia bercerita dengan bahasa isyarat yang tak banyak aku mengerti.  Terbayang bagaimana rasanya jika Tiwi pergi jauh dariku, aku tak ingin semua itu terjadi.
            “Nak, keluar dari kamar. Ayo Donita keluar gih!” cetus Ibu dari luar kamarku.
            Aku hanya diam membisu. Aku tak ingin menemui orang terlebih dahulu, aku ingin menenangkan diri. Tapi apa mau di kata, Ibu tetap memaksaku. Dia kembali menenangkan hatiku. Kembali menyejukkan hatiku, yang sempat rapuh karena akan kehilangan adik kesayanganku. Dia pun mengajakku ke rumah sakit untuk menjenguk Tiwi.
            Mataku kembali berlinang ketika melihat adik kesayanganku harus berada diruang ICU, aku tak ingin kehilangan sosok Tiwi. Yang pasti aku akan merasa benar-benar kehilangan. Wajahnya yang pucat pasih membuatku meneteskan air mata untuk kesekian kalinya. Teringat masa-masa bersama di bawah pohon mangga depan rumah, selalu menjadi kenangan manis kami berdua. Selama detak jantungnya masih berdetak, selama itulah aku akan menjaganya. Mumpung masa liburan belum usai. Banyak yang aku harapkan jika nantinya Tiwi tersadar dari tidurnya.
            Malam kian larut, aku duduk terpaku di dekat tubuh adikku. Sedangkan Ayah dan Ibu berada dirumah, karena kami bergiliran untuk menjaga Tiwi. Aku mengelus tangan Tiwi, aku kembali menangis dan berharap Tiwi akan tersadar dari tidurnya.
            Dua hari berlalu, ia masih saja belum sadar. Kami sekeluarga khawatir dengan hal ini. Apa yang harus kami perbuatpun, tidak tahu. Tim dokter pun tak bisa melakukan apa-apa. Hanya harapan besar untuk tuhanlah semua ini kami serahkan.
            Hari itu adalah hari yang sangat mengecewakan bagi kami sekeluarga. Tiwi telah dipanggil yang mahakuasa. Aku tak bisa menerima hal itu, aku mencoba untuk membangunkan Tiwi, tetapi semuanya hanya sia-sia. Ia tak kunjung bangun, dokter hanya mengelus pundakku. Menyuruhku untuk tegar menghadapi ini semua.
            “Tiwi, jangan tinggalkan kakak! Bangun Dek, bangun!! Cepat bangun Dek!!” jeritku sambil menangis, memegang tangan Tiwi yang telah tak bernyawa lagi.
            Ibu menarik tanganku, mencoba untuk memelukku. Tapi gagal, aku berhasil melepaskan pegangan Ibu. Aku tak ingin kehilanganTiwi, aku tak bisa menerima semua itu. Malam kian larut, hujan kian deras. Mataku pun kian sembab, hatiku tertambat pada adik kecilku yang kusayangi.
            Dalam mobil ambulance pun aku tetap terpaku menangis, benar-benar merasa kehilangan adikku. Saat pemakaman Tiwi aku merasa dirudung duka. Ketika selesai pemakaman Tiwi. Dan dipasanglah, sebuah kayu nisan, bernama Pertiwi Zansyiwa. Aku tetap tak ingin makam itu. Aku tak ingin pergi jauh dari Tiwi. Tiwi harus tetap bersamaku, harus dan harus. Ya, apa mau dikata, Ia tak mungkin lagi bersamaku.
            Akhirnya dengan paksaan Ayah dan Ibu aku pulang kerumah. Dengan rasa yang berat hati, aku tak ingin melepaskan Tiwi dari genggamanku. Suasana duka masih menyelimuti keluarga kami, tapi kami mencoba untuk tegar dalam menjalani semua ini, mungkin ini sudah suratan takdir sang ilahi.
            40 puluh hari setelah meninggalnya Tiwi. Setiap aku melihat lukisan yang pernah dibuat almarhum semasa hidupnya aku meneteskan air mata. Sampai aku teringat lukisan masa depan yang pernah ku buat dengan Tiwi. Aku masih mencari-cari lukisan itu, sulit sekali, sampai aku menemukannya di bawah tempat tidur Tiwi. Aku sontak terkejut  ketika melihatnya. Lukisan itu adalah gambar pohon mangga di depan rumah, dengan aku dan dia didalamnya. Sesuatu yang mengganjal adalah sebuah ukiran di batang pohon itu. Aku segera berlari ke bawah pohon mangga, dan apa yang kutemukan adalah ukiran yang sama persis didalam lukisan itu.
            “ Tiwi sayang Kakak” ukiran itu terlihat jelas. Kembali aku meneteskan air mata, yang kali ini serasa mengoyak hati. Sayangnya ia tak lagi bersamaku. Kehilangan orang yang paling kusayangi, orang yang selalu ada untukku.
            Aku harus melepaskan kenangan itu, kenangan bersama adik kesayanganku. Seorang adik yang terlahir dengan kebisuan permanen, dan kepintarannya melukis.
            “Semoga kau tenang disana sayang. Dalam alam yang akan abadi disana,” harapku dalam hati.

*Anggun Zarela
Agustus, 2011


Diposting oleh Tulisan-tulisanku di 03.59
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
@ 2011 PELAJAR BERKARYA; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog