PELAJAR BERKARYA

Pages

  • Beranda

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

About Me

Foto Saya
Tulisan-tulisanku
Lihat profil lengkapku

Labels

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Blog Archive

  • ▼  2011 (14)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (2)
    • ▼  Agustus (9)
      • Kisah tak sempurna
      • Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)
      • Mana Pacarku?
      • Bisu Tanpa Suara, Hati Selalu Bersama Untukmu Adi...
      • Ingin Ku Berjilbab
      • Untukmu Pelajar
      • Menurut Anda???
      • Sahabatku Jadi Musuh Dalam Selimut
      • Penantian Akhir Sampai Ku Mati (Nessiza Syandara)

List Widget

Tag Cloud

  • CERPENKU (3)
  • k (1)

Cari Blog Ini

" "

Dalam diam ada kerenungan, dalam kasih ada cinta.
Dalam hidup ada keluh, dalam duka ada kesah.
Dalam hati ada rasa.
Dan dalam pikiran ada kejernihan.

Terima Kasih

Terima Kasih
Powered By Blogger

Entri Populer

  • (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya
    (Mustafa) Batu Nisan Hitam Hadiah Untuknya Oleh Anggun Zarela Titik-titik embun pagi masih bertebaran diangkasa. Rasa dingin suhu pagi itupu...

Followers

Jika kamu terus memfokuskan dirimu pada apa yang tertinggal di masa lalu, kamu tak akan pernah bisa apa yang ada di depanmu...

Jumat, 26 Agustus 2011
In: CERPENKU

Hadiah Lebaran Untuk Mia (Selamat Tinggal Bapakku)


Hadiah Lebaran Untuk Mia
(Selamat Tinggal Bapakku)

Hampir sebulan penuh umat beragama Islam, menjalankan ibadah berpuasanya di bulan yang penuh berkah. Ya bulan Ramadhan namanya. Apalagi setelah merasakan berpuasa selama sebulan penuh, nantinya mereka akan menyambut hari raya Idul Fitri. Tak ketinggalan dengan keluarga Mia, keluarga yang serba kekurangan. Tetapi mereka, tetap saja menjalankan ibadah berpuasa dengan lancar, karena setiap harinya mereka selalu berpuasa, makan pagi lalu malam baru makan kembali.
            Mia adalah seorang gadisl berusia 12 tahun, ia memiliki rambut yang panjang, cerdas. Sedangkan orang tuanya hanya pemungut barang bekas dijalan, terkadang Bapaknya mencari ikan disungai. Rumah mereka pun sangat sederhana, hanya terbuat dari bilah-bilah bambu, atapnya pun banyak yang bocor. Mereka menempati tanah tetangganya yang baik hati.
            Hidup serba kekurangan ini membuat Mia nantinya tak akan bisa menikmati bangku sekolah. Alhasil, ia mengurungkan niatnya sebagai seorang dokter untuk rakyat kecil. Tak hanya keluarganya yang melarat seperti ini, banyak tetangganya yang juga melarat sepertinya.
            Tahun ini, Mia sudah diajarkan orang tuanya untuk berpuasa sebulan penuh tanpa bolong-bolong. Sudah 23 hari berpuasa, belum ada satupun puasanya yang bolong. Mia selalu sabar dengan keadaan yang telah diberikan tuhan kepadanya. Walaupun ia masih kecil, tetapi ia sudah mengerti arti keikhlasan, ketabahan, keridhoan.
            “Pak, puasaya tinggal tujuh hari lagi kan Pak?” tanyanya pada Bapaknya.
            “Iya Mia, Mia tidak boleh bolong puasanya!”
            “Mia mau baju baru Pak, serba baru seperti teman-teman Mia yang lain” ujarnya.
            Bapaknya tertunduk lalu diam. Sunyi sekali. Ibunya pun membuang muka, dan meninggalkan rumah entah kemana. Mia masih bertanya-tanya tentang keinginannya pada Bapaknya. Sama saja seperti tadi tetap diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir kering Bapaknya. Hanya tundukan malu pada anaknya yang ia tunjukkan.
            Setelah berbuka malam itu yang hanya dengan segelas air putih dan nasi berlaukan sayur dan sambal saja. Mia mengerti kesulitan yang dihadapi kedua orang tuanya. Untuk makan saja susah, apalagi untuk yang lainnya.
            Malam itu, Bapaknya masih berfikir tentang keinginan anaknya memiliki baju baru seperti teman-temannya yang lain. Memang selama ini, Mia tidak dapat menikmati baju-baju baru seperti temannya yang lain, hanya baju bekasan dan berian dari orang-orang kaya saja yang ia pakai. Setidaknya itu untuk melindungi tubuh Mia. Tetapi Bapaknya sadar, bahwa keinginan anaknya itu haruslah diberikan. Karena ia tak ingin Mia kecewa, hanya tak ada baju baru untuknya lebaran nanti.
            Selama tujuh hari itu Bapaknya berusaha mencari receh demi recehan uang dengan mencari barang bekas seperti biasa. Tetapi apa boleh dikata, itu tak mencukupi untuk membeli baju baru Mia.
            Sore itu dihari ke 26 berpuasa, Bapaknya sedang beristirahat dipinggir jalan tak jauh dari pasar. Entah setan apa yang merasuki jiwanya, sampai-sampai Ia nekat untuk mencopet salah satu pembeli dipasar itu. Apa boleh dikata? Akhirnya Ia tertangkap oleh massa, sampai dihakimi hingga babak belur. Dan Bapaknya dibawa ke puskesmas tak jauh dari pasar. Orang-orang masih saja mencibirnya dengan kata-kata yang tidak sopan.
            Mia dan Ibunya pun terkejut mendengar kabar kejadian tadi sore di dekat pasar. Bergegas mereka berdua meninggalkan gubuk kecil mereka, dan berlarian menuju Puskesmas. Ketika mereka berdua sampai, malang memang Bapaknya menghembuskan nafas terakhirnya. Tak ada sepatah katapun terucap sebelum kematiannya. Hanya omongan yang disampaikan oleh perawat disanalah yang membuat Mia dan Ibunya terkejut. Bapaknya dengan gagah berani mencopet dompet orang untuk membelikan baju baru untuk anaknya.
            Mia menangis merasa Ia yang paling salah atas kematian Bapaknya. Coba saja kalau dia waktu itu tidak memaksa Bapaknya untuk membelikannya baju baru lebaran. Ia merasa menyesal dengan permintaannya waktu itu, sampai-sampai Bapaknya tak berkata sedikitpun. Sayangnya, penyesalan itu sia-sia, kini Bapaknya sudah dipanggil Sang Khalik sebelum Ia membelikan baju baru untuk Mia. Dan sebelum menikmati lebaran yang tinggal empat hari lagi.
            Tak ada keinginan lain selain ingin Bapaknya kembali ada. Tetapi apa mau dikata semua telah terjadi, Mia menjerit histeris ketika Bapaknya dimasukkan kedalam liang lahat tempat tinggal barunya. Kini ia tak punya Bapak lagi, ia telah menjadi anak yatim.
            Dua hari setelah kematian Bapaknya, Mia masih saja merenung atas kesalahan dan penyesalannya. Rintihan tangisan masih kuat terasa. Ibunya hanya pasrah dengan keadaan yang telah diberikan tuhan pada keluarganya. Apalagi sebelum lebaran tiba, ia kehilangan suami yang selalu ia temani disaat suka maupun duka.
            “Ya Allah Mia menyesal!!!” jeritnya pada langit malam penuh dengan bintang terang.
            “Engkau dimana Ya Allah, malam ini adalah malam terakhir menikmati Ramadhan-Mu, malam ini semua orang berbondong-bondong untuk mentakbirkan nama-Mu! Mana kebesaran-Mu! Tunjukkan! Engkau telah mengambil nyawa Bapakku, aku diam Ya Allah! Mana Engkau??” jerit Mia tak karuan.
            Ibunya mencoba menenangkan tubuh Mia yang sudah meronta-ronta seperti orang kerasukan. Para tetangganya keluar untuk meliahat hal yang terjadi pada Mia. Mereka merasa iba dengan Mia, yang depresi kehilangan Bapaknya.
            “Tak usah memegangku Ibu!  Aku tak rela Bapak meninggal karena amukan massa! Aku tak rela ia meninggal dengan alasan untuk membelikanku baju baru! Aku tak rela Ya Allah! Kau jahat! Kau tega! Kau ambil nyawa Bapakku, ketika sebentar lagi akan lebaran! Ketika sebentar lagi Hari raya nan fitri mu hadir ditengah-tengah kami rakyat miskin yang terlantar! Apa tahun ini aku harus menikmati lebaran tanpa Bapakku? Hanya orang tuaku hadiah lebaran yang terindah! Hanya karena aku ingin baju baru Kau ambil nyawa Bapakku! Kau Jahat! Kembalikan Bapakku!!!!! “ Mia masih terjerit sambil menunjuk langit sambil menagis histeris.
            Mia kini tak sadarkan diri. Semua orang tak ingin ia mengalami stres yang berkepanjangan. Sampai pada akhirnya, ia mendapatkan baju baru dari salah seorang penjual pakaian di pasar, yang pernah dijumpai Bapaknya sebelum kematiannya. Baju yang diberikan merupakan baju pilihan Bapaknya yang waktu itu akan ia beli, tetapi berhubung ia sudah meninggal, dengan ikhlas penjual itu memberikannya pada Mia.
            Rasa sedih itu agak sedikit hilang. Ia mencoba untuk ikhlas dengan semua kenyataan pahit yang ada. Ia menikmati Hari raya Idul Fitri tanpa Bapaknya, tanpa orang yang ia sayangi. Ia mencoba menerima hal itu. Kini ia tak ingin menyusahkan Ibunya. Hanya Ibunya orang yang ia miliki, ia membantu Ibunya menafkahi keluarga setelah lebaran ini. Tuhan menciptakan manusia untuk datang dan pergi begitu saja di hidup ini. Walaupun semuanya tak ada yang abadi.
Anggun Zarela, 25 Agustus 2011

Diposting oleh Tulisan-tulisanku di 07.44
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

2 komentar:

cherrya mengatakan...

like this.........

28 Agustus 2011 pukul 17.57
Tulisan-tulisanku mengatakan...

Makasi mbak mell.:))

1 September 2011 pukul 22.17

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
@ 2011 PELAJAR BERKARYA; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog